some_text
News Sport Gaya Hidup selebritis

Seorang Dosen Menikahi Mahasiswinya Dengan Mahar Rp 200 Juta

Advertisemen  
Berita pernikahan dosen mata kuliah bahasa Arab dan mata kuliah hadis pada Universitas Islam Negeri Alauddin (UIN), Abd Syukur Abu Bakar (64) dengan Magfira (23) sedang viral pada media sosial.

Pemilik akun tergoda untuk memperbincangkan pernikahan ini lantaran usia mempelai laki-laki dan perempuan terpaut jauh.

Selisih usia mereka mencapai 41 tahun, kurang delapan tahun dari setengah abad.
Magfira yang masih berstatus mahasiswi tak menolak cinta Syukur sekaligus dosennya pada Universitas Islam Makassar.

Dia pun terlihat tak canggung saat duduk bersanding di pelaminan, Rabu (19/10/2016), malam, ketika tetamu satu per satu datang menyalami.

Sikap Magfira mungkin kontras dengan sikap sebagian perempuan perempuan masa kini yang rata-rata menolak dinikahi laki-laki tak sebayanya.

Agar bisa menikahi Magfira, Syukur sekaligus Ketua Pengurus Masjid Kampus UIN Alauddin tak hanya bermodalkan cinta sebagai dosen kepada mahasiswinya.

Berapa mahar yang harus diberikan?

Uang Panai atau mahar yang diberikan dosen Bahasa Arab dan Ilmu Hadist ini untuk Magfirah pun bikin melongo.

Ditemui usai memimpin shalat duhur di Masjid UIN Alauddin Samata Gowa, Syukur membocorkan tentang uang panainya untuk pujaan hatinya tersebut.

"Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kalau uang panainya, keluarga Fira minta Rp 200 juta dan saya sanggupi," jelas Syukur, Kamis (20/10/2016) sore.

Selain uang Rp 200 juta, Syukur juga memberikan perhiasan satu set senilai Rp 25 juta.

Uang panai' tersebut adalah uang belanja bagi Magfira sesuai adat dan budaya dalam pernikahan suku Bugis, Makassar, dan Mandar.

Resepsi pasangan beda 41 tahun ini pun berlangsung meriah di Training Center UIN Alauddin Makassar.

Kenapa Harus Ada Uang Panai'?

Pada masa Kerajaan Bone serta Gowa dan Tallo, jika ada seorang laki-laki hendak meminang perempuan entah dari kalangan bangsawan maupun bukan, wajib menyerahkan uang panai’.
Jika tidak diserahkan, konsekuensinya adalah pinangan itu jelas ditolak.

Uang panai’ hanya diserahkan kepada perempuan dari suku Bugis, Makassar, dan Mandar.

Uang panai’ dimaksudkan sebagai penanda jika si laki-laki yang kelak akan menjadi suami akan mampu menafkahi istrinya.

Nah, sebaliknya, jika tidak mampu atau memiliki uang panai’, bagaimana mungkin kelak akan memberi nafkah.

Jika mampu memberi uang panai’ berarti siap secara lahir batin untuk membangun bahtera rumah tangga.

Menikah pun tak cukup jika hanya bermodalkan cinta.

Uang panai’ pada esensinya bukanlah uang untuk membeli calon istri.

Uang panai’ adalah uang belanja atau mahar atau uang untuk membiayai pesta yang akan digelar keluarga calon mempelai perempuan.

Namun, seiring dengan perubahan zaman, esensi uang panai’mulai bergeser.

Awalnya adalah uang belanja, tapi kini bagi sebagian kalangan, uangpanai’ menjadi simbol prestise dan gengsi dan bahkan ada oknum ambil untung.

Nominal uang panai’ mencitrakan, siapa yang memingang dan siapa yang dipinang.

Menikah di kalangan sebagian orang Bugis, Makassar, Mandar, akhirnya bukanlah perkara mudah dan murah.



Advertisemen  

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari Source World Melalui Email Anda.